You are currently browsing the category archive for the '1' category.

Pers Release

A WORLD MUSIC Present
the phantom of the “ TRADITIONAL ” opera
GBB Taman Ismail Marzuki 3 july 2008 pukul 20:00 wib sd selesai

Dunia seni pertunjukan selalu dituntut untuk berinovasi menciptakan suatu karya karya pementasan yang memiliki estetika seni tinggi tanpa mengabaikan sisi edukasi dan komersialitas bagi para penikmatnya. Inilah yang menjadi tantangan bagi para pelaku seni. Di tengah perkembangan dunia telekomunikasi yang begitu tinggi, di mana ruang dan waktu hampir tidak menjadi batasan lagi untuk berinteraksi, hiburan telah beralih menjadi sesuatu yang individual. Orang–orang menjadi enggan untuk meluangkan waktu pergi ke gedung pertunjukan dan menyaksikan suatu pertunjukan yang bermutu. Adalah tugas kita bersama: pelaku, penonton dan pendukungnya untuk menyatukan kekuatan sesuai dengan latar belakangnya masing–masing dan mengembalikan interaksi sosial yang sebetulnya begitu luar biasa dalam membangun karakter manusia agar menjadi lebih baik.

The Phantom of the Traditional Opera merupakan sebuah pementasan yang mengkolaborasikan alat alat musik traditional Indonesia dan manca negara dan dilengkapi dengan beberapa tarian , traditional dan kontemporer .

Mengapa harus mengangkat The Phantom of the opera ?
ini adalah suatu cara untuk penyampaian kepada masyarakat luas bahwa alat musik tradisi kita tidak bisa di pandang sebelah mata atau didengar dengan sebelah telinga, alat musik tradisi Indonesia selalu mengalirkan ide ide kreatif dan tak pernah kering , dibeberapa
Bagian komposisi dalam the phantom of the opera , memiliki tingkat kesulitan yang tinggi , terutama pada bagian overtune ataupun modulasi.

Sampai ini dipentaskan oleh kelompok mahagenta, survey membuktikan bahwa kelompok mahagenta yang pertama mementaskan musik the phantom of the opera sebanyak 12 piece dengan aransement traditional . Mahagenta adalah bukan kelompok musik tradisi ,sehingga The Phantom of the Traditional Opera bisa dinikmati di berbagai kelompok usia karena variant pertunjukkan dan teknik entertainnya yang mengacu kepada konsep konsep kekinian.misalnya
Ada komposisi rampak kendi sebagai komposisi pembuka pada lagu “Primadona” yang berirama ¾ ,
Kemudian alat musik Bonang dan Talempong yang selalu eksis membalur nuansa yang pada lagu “ Angel of Music “ dengan catatan bahwa lagu tersebut mengalami 3 kali perubahan nada dasar overtune , inilah yang agak surprise mengingat alat musik tradisi rata rata terdiri hanya dari 5 not atau yang biasa kita sebut pentatonik.
Pada lagu ‘ Musik of the night” nuansa Betawi sangat kental yang di perkuat juga dengan tari Betawi itu sendiri namun garis garis opera tetap terpelihara dengan baik.
Pada lagu ‘ Wishing You Were Some How “ Teknik vocal Sinden memang tidak terlalu di Stresing pada bagian ini karena di khawatirkan pendengar fanatik khususnya pada lagu tersebut akan kehilangan apa yang mereka kenal selama ini.
Perpaduan gendang dan drum pada pertunjukkan ini barangkali menjawab beberapa persepsi bahwa mengawinkan dua instrument tersebut juga termasuk sulit dan boleh dikatakan perpaduan itu belum pernah ada yang berhasil melakukan secara memuaskan namun oleh pemain mahagenta dua alat ini di jadikan sebagai media dialog bagi instuisi pemain yang menginterpretasikan alat itu sendiri sehingga perkawinannya terdengar “bergerak dan segar.”
Semoga ini akan menjadi pengalaman bunyi bunyian yang menyenangkan.

Mahagenta, sebuah kelompok musik yang juga sebagai pelaku seni telah ikut serta menjawab tantangan . Animo luar biasa yang tertampung di Gedung Kesenian Jakarta pada 27 Desember tahun lalu, mereka dapatkan saat menggelar sebuah pertunjukan musik teaterikal yang berjudul “Mencari Negeri Sendiri”. Dengan segala keterbatasan promo yang dilakukan pada saat itu dan tanpa didukung oleh pihak sponsor, pertunjukan itu terbilang sukses yang berarti; 80 % tempat duduk yang tersedia dipenuhi oleh penonton. Standing aplaus yang mereka haturkan di malam itu melengkapi kemegahan pertunjukan kolosal yang sayangnya hanya 1 hari saja.

Dikesempatan ini Mahagenta mencoba kembali mengulang sukses pertunjukan lalu dengan tidak hanya berjuang sendiri, tapi mengajak para pendukung lain untuk bergabung bersama dan menciptakan pertunjukan berkualitas, tanpa mengabaikan nilai pendidikan bagi penonton dan tentu saja bernilai jual tinggi.

Sebuah Mahakarya dunia yang melegenda “The Phantom of The Opera”, dihadirkan untuk pertama kalinya di Indonesia dengan sentuhan musik tradisi dan kontemporer yang dibalut oleh seni gerak dan tari yang tentunya mengacu ke budaya adi luhung khas Indonesia.
Kami mengucapkan terimakasih banyak atas apresiasinya terhadap upaya upaya kami untuk melestarikan alat musik tradisional Indonesia ( alat musiknya dulu kami kira tidak apa sebab musik Indonesia sendiri sudah tidak terselamatkan ) coba dengar sekeliling kita..
Semoga cita cita kami dapat terwujud untuk mendapat tempat pada perhelatan bergengsi Indonesia yaitu Anugerah Musik “katanya” Indonesia

Salam Indonesia
uyung

ALMENAK

November 2009
S S R K J S M
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

TETAMU

  • 9,067 hits