You are currently browsing the category archive for the 'Event' category.

SELAMAT ULANG TAHUN

logo-hut-ri-ke-64

Berjuang….
Berjuang….
Berjuang sekuat tenaga
Merdeka…..
Merdeka…
Merdeka-kan…Merdeka…

425artwork
613

Wisma Makara UI Depok

logo-jakarta-biennale-200911

Jakarta Biennale adalah ajang pameran seni rupa dua tahunan yang diselenggarakan sebagai bentuk pertanggung jawaban seniman kepada masyarakat serta peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian, khususnya Seni Rupa.

Jakarta Biennale 09 kali ini adalah biennale yang pertama kali bersifat international dengan mengundang secara khusus seniman-seniman yang berkualitas dari manca negara.

sebuah pementasan teater dan tari karya aidil usman.
yang diperankan oleh orang orang bertubuh mini…
Sutradara/Koreografi : M. AIDIL USMAN
Music Director: UYUNG MAHAGENTA
Disain Grafic; Omen Rohman

Pers Release

A WORLD MUSIC Present
the phantom of the “ TRADITIONAL ” opera
GBB Taman Ismail Marzuki 3 july 2008 pukul 20:00 wib sd selesai

Dunia seni pertunjukan selalu dituntut untuk berinovasi menciptakan suatu karya karya pementasan yang memiliki estetika seni tinggi tanpa mengabaikan sisi edukasi dan komersialitas bagi para penikmatnya. Inilah yang menjadi tantangan bagi para pelaku seni. Di tengah perkembangan dunia telekomunikasi yang begitu tinggi, di mana ruang dan waktu hampir tidak menjadi batasan lagi untuk berinteraksi, hiburan telah beralih menjadi sesuatu yang individual. Orang–orang menjadi enggan untuk meluangkan waktu pergi ke gedung pertunjukan dan menyaksikan suatu pertunjukan yang bermutu. Adalah tugas kita bersama: pelaku, penonton dan pendukungnya untuk menyatukan kekuatan sesuai dengan latar belakangnya masing–masing dan mengembalikan interaksi sosial yang sebetulnya begitu luar biasa dalam membangun karakter manusia agar menjadi lebih baik.

The Phantom of the Traditional Opera merupakan sebuah pementasan yang mengkolaborasikan alat alat musik traditional Indonesia dan manca negara dan dilengkapi dengan beberapa tarian , traditional dan kontemporer .

Mengapa harus mengangkat The Phantom of the opera ?
ini adalah suatu cara untuk penyampaian kepada masyarakat luas bahwa alat musik tradisi kita tidak bisa di pandang sebelah mata atau didengar dengan sebelah telinga, alat musik tradisi Indonesia selalu mengalirkan ide ide kreatif dan tak pernah kering , dibeberapa
Bagian komposisi dalam the phantom of the opera , memiliki tingkat kesulitan yang tinggi , terutama pada bagian overtune ataupun modulasi.

Sampai ini dipentaskan oleh kelompok mahagenta, survey membuktikan bahwa kelompok mahagenta yang pertama mementaskan musik the phantom of the opera sebanyak 12 piece dengan aransement traditional . Mahagenta adalah bukan kelompok musik tradisi ,sehingga The Phantom of the Traditional Opera bisa dinikmati di berbagai kelompok usia karena variant pertunjukkan dan teknik entertainnya yang mengacu kepada konsep konsep kekinian.misalnya
Ada komposisi rampak kendi sebagai komposisi pembuka pada lagu “Primadona” yang berirama ¾ ,
Kemudian alat musik Bonang dan Talempong yang selalu eksis membalur nuansa yang pada lagu “ Angel of Music “ dengan catatan bahwa lagu tersebut mengalami 3 kali perubahan nada dasar overtune , inilah yang agak surprise mengingat alat musik tradisi rata rata terdiri hanya dari 5 not atau yang biasa kita sebut pentatonik.
Pada lagu ‘ Musik of the night” nuansa Betawi sangat kental yang di perkuat juga dengan tari Betawi itu sendiri namun garis garis opera tetap terpelihara dengan baik.
Pada lagu ‘ Wishing You Were Some How “ Teknik vocal Sinden memang tidak terlalu di Stresing pada bagian ini karena di khawatirkan pendengar fanatik khususnya pada lagu tersebut akan kehilangan apa yang mereka kenal selama ini.
Perpaduan gendang dan drum pada pertunjukkan ini barangkali menjawab beberapa persepsi bahwa mengawinkan dua instrument tersebut juga termasuk sulit dan boleh dikatakan perpaduan itu belum pernah ada yang berhasil melakukan secara memuaskan namun oleh pemain mahagenta dua alat ini di jadikan sebagai media dialog bagi instuisi pemain yang menginterpretasikan alat itu sendiri sehingga perkawinannya terdengar “bergerak dan segar.”
Semoga ini akan menjadi pengalaman bunyi bunyian yang menyenangkan.

Mahagenta, sebuah kelompok musik yang juga sebagai pelaku seni telah ikut serta menjawab tantangan . Animo luar biasa yang tertampung di Gedung Kesenian Jakarta pada 27 Desember tahun lalu, mereka dapatkan saat menggelar sebuah pertunjukan musik teaterikal yang berjudul “Mencari Negeri Sendiri”. Dengan segala keterbatasan promo yang dilakukan pada saat itu dan tanpa didukung oleh pihak sponsor, pertunjukan itu terbilang sukses yang berarti; 80 % tempat duduk yang tersedia dipenuhi oleh penonton. Standing aplaus yang mereka haturkan di malam itu melengkapi kemegahan pertunjukan kolosal yang sayangnya hanya 1 hari saja.

Dikesempatan ini Mahagenta mencoba kembali mengulang sukses pertunjukan lalu dengan tidak hanya berjuang sendiri, tapi mengajak para pendukung lain untuk bergabung bersama dan menciptakan pertunjukan berkualitas, tanpa mengabaikan nilai pendidikan bagi penonton dan tentu saja bernilai jual tinggi.

Sebuah Mahakarya dunia yang melegenda “The Phantom of The Opera”, dihadirkan untuk pertama kalinya di Indonesia dengan sentuhan musik tradisi dan kontemporer yang dibalut oleh seni gerak dan tari yang tentunya mengacu ke budaya adi luhung khas Indonesia.
Kami mengucapkan terimakasih banyak atas apresiasinya terhadap upaya upaya kami untuk melestarikan alat musik tradisional Indonesia ( alat musiknya dulu kami kira tidak apa sebab musik Indonesia sendiri sudah tidak terselamatkan ) coba dengar sekeliling kita..
Semoga cita cita kami dapat terwujud untuk mendapat tempat pada perhelatan bergengsi Indonesia yaitu Anugerah Musik “katanya” Indonesia

Salam Indonesia
uyung

Persembahan World Music

“ The Phantom Of The Traditional Opera”

3 Juli 2008, Pkl 20.00 wib sd Selesai

Graha Bhakti Budaya , Taman Ismail Marzuki

Sebuah pagelaran anak bangsa yang mengkolaborasikan instrument tradisional

Indonesia dan mancanegra ( Talempong, Sitar India,Erhu, Kecapi, Saluang dan sebagainya )

Mahagenta memberi wacana baru bagi pendengarnya bahwa alat musik tradisional Indonesia mampu memainkan karya opera yang megah dan fenomenal itu , seperti apa jadinya ? . kami tunggu kehadiranya..

Salam Budaya…

Indonesia Art Award 2008
Bagaimana mengukur perkembangan seni rupa di Indonesia? Jawabnya tentu bisa dengan berbagai hal. Salah satunya dengan menyelenggarakan kompetisi seni rupa. Dan Indonesia Art Award [IAA] 2008 bisa jadi salah satu cara untuk melihat perkembangan seni rupa mutakhir Indonesia. Hadiah-nya pun sangat lumayan. Anda tertarik?
Yayasan Seni Rupa Indonesia [YSRI] menyiapkan hadiah sebesar 130 juta rupiah untuk 10 karya terbaik dalam kompetisi ini. Dengan perincian, terbaik pertama mendapatkan Rp. 25.000.000,00, terbaik kedua mendapatkan Rp. 20.000.000,00, terbaik ketiga mendapatkan Rp. 15.000.000,00 dan 7 karya terbaik masing-masing mendapatkan uang sebesar Rp. 10.000.000,00. Selain itu 100 karya terbaik akan dipamerkan di Galeri Nasional Jakarta pada tanggal 3 – 14 Juli 2008.
Syaratnya nggak susah. Peserta kompetisi adalah perseorangan dan atau kolaborasi [kelompok], tidak ada batasan usia. Tapi jangan kirim karya yang lama, terhitung dibuat dalam dua tahun terakhir. Ukuran bebas, artinya mau seberat apa pun setinggi atau selebar apa pun, silakan kirim. Namun tiap peserta hanya diijinkan mengirim 3 [tiga] karya.
Jika Anda membuat karya dalam bentuk Lukisan dan Fotografi agar mencetak 2 lembar foto ukuran 10 R. Jika Anda membuat karya Patung, grafis, keramik, instalasi, obyek, kirimkanlah 4 lembar foto ukuran 10 R yang menampilkan 3 sudut pandang : tampak depan, tampak samping, tampak belakang dan tampak atas. Dan bagi Anda yang membuat karya video art kirimkan 1 keping CD/DVD dengan resolusi gambar yang baik.
Setiap peserta wajib melampirkan keterangan karya lengkap, seperti : judul, ukuran, teknik, format, bahan dan hal-hal yang berkaitan dengan karya dalam selembar kertas. Jangan lupa melampirkan biodata [curriculum vitae], alamat surat, email, nomor telepon/HP, fax, email dan fotokopi KTP/SIM atau bukti identitas yang masih berlaku. Pokoknya harus jelas.
Ingat jangan telat karena materi persyaratan [foto, CD/DVD, CV, alamat peserta] sudah diterima selambat-lambatnyanya pada tanggal 20 Mei 2008. Kirim ke alamat: Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI), Galeri Nasional Indonesia – Gedung B, Jl. Medan Merdeka Timur No.14, Jakarta Pusat 10110. Telp. 62 22 3861603, Fax. 62 22 3861535.
Tolong diingat pula, Insya Allah, pada tanggal 3 Juli 2008 bersamaan dengan pembukaan pameran di Galeri Nasional Jakarta, panitia akan mengumumkan karya-karya terbaik hasil kompetisi IAA 2008. Hmmm, pasti mendebarkan. Awas ya panitia kalau ada informasi yang bocor terlebih dahulu.
Lalu bagaimana dengan tema?
Jangan terkejut. Panitia penyelenggara mengusung tema ”SENI TANPA BATAS” untuk kompetisi IAA 2008. Namun pengertian ”tanpa batas” di sini bukannya tanpa arah. Kan gak mungkin prilaku menilep uang negara alias korupsi disebut sebagai karya seni. Itu sih, pidana namanya. Jangan lakukan korupsi! Itu bukan seni.
Di dalam rumusan kompetisi, panitia penyelenggara menyebutkan secara tegas bahwa karya yang akan dinilai adalah seni sebagai artefak dan bukannya mentifact. Seni sebagai artefact adalah yang berwujud sehingga dapat dilihat dan dibaca secara langsung. Dapat ditaruh ditaruh di ruang pameran tertutup maupun terbuka.
Sementara seni rupa pertunjukan atau seni sebagai peristiwa yang hanya dapat berlangsung di suatu tempat dan saat tertentu sehingga menjadi seni yang tak dapat diulangi atau digantikan oleh peristiwa lain, tentu tidak dapat dinilai. Contohnya adalah performance art dan atau jeprut. Maka yang dapat dinilai adalah jejak (trace) berupa dokumentasi dari peristiwa tersebut.
Begitu luasnya tema dan peluang karya yang bisa dilombakan lantaran praktek seni rupa saat ini tidak lagi dikotak-kotakkan. Bila,”Pada kompetisi-kompetisi sebelumnya hanya melombakan kategori seni lukis, pada IAA 2008 ini akan dikompetisikan semua kategori seni rupa. Semua kategori itu kini tidak lagi dibeda-bedakan. Semua dirangkum dalam satu kategori: SENI,” kata Miranda S. Goeltom, Ketua Umum Yayasan Seni Rupa Indonesia, di dalam siaran pers.
Miranda juga mengemukakan bahwa tema ini mencuat sebagai suatu respon terhadap perkembangan seni rupa yang cenderung tak lagi terkotak-kotak: seni lukis, patung, grafis, instalasi, vidoa art, atau yang lain. Semuanya memiliki nilai yang sama sebagai karya seni. Dengan tema “Seni Tanpa Batas”, kompetisi ini sekaligus ingin merayakan kebebasan artistik seluas-luasnya.
Dengan kata lain, menurut saya, sebenarnya kompetisi ini benar-benar menantang para seniman untuk kembali menunjukkan kemampuan berkarya. Tapi bukan berarti ini sebuah kewajiban lho, saya hanya ingin memanas-manasi saja. Toh, setidaknya lewat kompetisi ini, kita, barangkali menemukan eksplorasi ”terbaru” dalam berkarya. Bagaimana, berani?

ALMENAK

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

TETAMU

  • 9,351 hits